Malam itu paduan suara katak terdengar kelelahan pasalnya katak meminta hujan tetapi hujan tidak turun, namun pada waktu yang tak di sangka-sangka hujan turun, yang pagi harinya di awali matahari cerah.
“Cuaca di jaman sekarang sungguh aneh”
“Ini Pemanasan Global”
“Sok tahu kamu, baru saja beberapa hari masuk kandang manusia sudah aneh ngomongnya. Coba apa yang dibuat pemanasan global sampai cuaca jadi seaneh ini.”
“Aku cuma sebentar di kandang manusia, keburu di tendang.”
“Nah..benarkan kamu yang sebentar saja di kandang manusia sudah aneh ngomongnya apalagi lama.”
“Tidak jauh beda dong sama kita.”
“Setuju aja deh, dari pada ngobrol terus. Kapan nyanyinya nih…?”
“Ayo kawan-kawan kita sekali-kali bersenandung lagu nasional negara yang katanya Indonesia ini”
“Waduh, aku tidak tahu itu lagu nasional negara yang katanya Indonesia. Bagaimana kalau lagu Iwan fals saja.”
“Aku pernah main ke tempat yang katanya sekolahan manusia Indonesia, malahan aku sempat membuat rumah di sana, aku tidak pernah dengar lagu nasional yang katanya Indonesia,
murid-muridnya lebih seneng nyanyiin lagu-lagu yang lagi ngetrend.”
“Ya sudah lagunya sakarep mu saja. Bagaimana saudara katakku??”
Rumah pinggir sawah menjadi riuh, suara paduan katak mengisi per inci ruangan, namun telinga Basni tertutup buah simalakama yang di suguhkan istrinya, di depan beranda rumah, ia menghisap tembakau mole cap Haji Ijah
Di lintingan pertama ia merancau, “Aku gak ngerti sama pemerintah, ko anak bangsanya belum siap buat Ujian Negara, di paksakan untuk ujian. Hasilnya, anak saya yang di ajarkan untuk selalu jujur dan belajar giat sepertinya percuma. Mau jadi apa negeri ini nanti.”
Lintingan kedua, “Bapak Ibu gurunya pada kelabakan menyelamatkan murid-muridnya, di Desa seberang Bapak guru dikejar-kejar warga, bapak guru dituntut sama warga karena anak-anaknya tidak lulus ujian. Di Desa tetangganya sekolahan bangkrut sepi dari murid kata si Umar penjaga sekolahnya, “Tahun kemarin murid-muridnya banyak yang tidak lulus, jadi masyarakat di sini ketakutan anak-anaknya kena kutuk tidak lulus sama sekolahannya.”
Lintingan ketiga, “Di tv ada beberapa orang guru masuk bui gara-gara ngasih bocoran ujian murid-muridnya, eh di tahun kemaren di tv juga, guru ada yang di tonjokin sama murid-muridnya gara-gara gak ngasih contekan.”
Lintingan keempat, “Aduh Gusti, kepintaran apakah yang kan nanti tercipta di negeriku. Ampuni kami dari dosa turunan para pendahulu negeri kami Gusti ”
Asap mengepul di mulut dan di hidung bersamaan resah sumpah serapah, harapan punya harapan, asap di bawa angin bergabung menuju langit. Biar harapannya terdengar.
Lintingan kelima, “Sudahlah pak, jangan banyak pikiran, dari pada ngedumel yang tidak karuan mendingan kita bercinta saja, itu sudah jelas akan tersampaikan inspirasinya. Kalau ngedumel tentang pemerintah gak bakalan sampai-sampai inspirasinya, nanti keburu bangun anak-anak kita” suara istri Basni sambil membereskan depan beranda rumah.
Tanpa lintingan tembakau Haji Ijah, Basni mendengar nyanyian paduan suara katak yang menyanyikan tentang negeri khayal, Basni semakin lemas begitu pun sang katak. Sebelum menyalurkan inspirasinya Basni dan istrinya menatap anak-anaknya.
“Ia begitu tenang dan senang hidup di alam mimpi”
Suara istrinya yang sudah ngantuk
“Iya bu. Ia lebih baik di alam mimpi saja di sana, gak bakal ada kebohongan. Alam mimpi kan terjadi dari apa yang kita endapkan di dalam pikiran.”
Suara katak pun hilang, rumah Basni pun sunyi. Semua exodus ke alam mimpi.
“Hiduplah Indonesia raya.”
Teriak katak sebelum tidur sambil menggenggam ijazah lusuh yang tak tersalurakan. Tersendat oleh kebijakan, yang berlaku untuk manusia kerajaan.
Pasirtanjung
Mei 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar