Awalnya hujan dari pagi bahkan ada saksi yang kurang bisa dipercaya, mengatakan hujan sudah turun sedari malam. Pagi, siang sama saja, jam terus berputar tetapi langit tetap saja tidak mau berubah, mendung lembab dan sedikit gerimis.
Di bus, tiba-tiba angin dengan suara lantang bertanya mau kemana, aku jawab mau ke Mesjid al-Banna di Indosemen sekarang Holcim ada bazar buku, dia melanjutkan pertanyaannya mau apa? Mau beli buku tentang islami lagi. Sudah lumayan banyak buku Islami di rumahmu, tetapi kamu masih saja tidak pernah berubah, mau cari buku Islami yang seperti apa lagi?. Panjang juga pertanyaan angin itu.
Aku ingin mencari kunci pertobatan, aku ingin mencari peluluh hati ku yang selalu tampak seperti orang yang tidak mempunyai iman bahkan kadang aku pun suka menjadi seorang yang tidak mempunyai agama, jawab ku. Angin pun terus berhembus dan hampa.
Tiba ku di Mesjid al-Banna, ternyata bajarnya kaum jilbabber. Teman ku menjumpai mengantarkan ke stand buku, dan ternyata lagi buku-bukunya lebih banyak buku anak-anak. Dan para Jilbabber pun semakin banyak.
Aku beli satu buku yang mengisahkan Hasan al Banna di stand itu, ngobrol sebentar dengan teman, teman ku itu salah satu Jilbaber jadi jelas dia perempuan. Obrolannya lebih banyak ke perkawinan dan pacaran.
Aku pergi lagi ke Gunung Putri, temui teman baru perempuan juga tapi belum tahu bentuknya seperti apa. Setelah berkeringat akhirnya teman baru itu menampakkan diri juga, dengan kosmetik, make up dan kaki yang bertotol. Dia ikut trend juga, teman baru itu pakaiannya bertolak belakang dengan Jilbaber. Jadi sangat tidak benar bila perempuan kedua yang ku temui dalam Trip kali ini menggunakan jilbab, wangi shampo saja bisa aku hirup.
Dalam hitungan jam aku bisa melihat penampakannya dan dalam hitungan menit pertemuannya, kemudian aku kembali ke Trip dan dia kembali tak nampak.
Pesan singkat datang, janji pertemuan pun menunggu. Aku menunggu di tempat perbelanjaan. Hanya satu jam, penampakan perempuan yang ketiga dari Trip kali ini datang dengan teman-temannya. Aku kira sendiri.
Aku pun masuk ke tempat perbelanjaan. Mereka memilih aku menunggu, mereka membeli aku menunggu, mereka berkata sudah aku ragu.
Dan, kita pun berpisah.
Buku kedua aku dapat dari instruksi Jilbaber di toko Mafaza dengan judul buku Kisah Nyata Para Syuhada Abad Baru, Perjalanan meminang Bidadari.
Pulang.
Matahari hanya mengintip saja di sore hari tetapi itu juga cukup membuat aku berkeringat.
Di bus.
Aku bertemu teman kakak ku yang menjadi teman ku juga, ia bercerita sudah sadar akan kebrutalannya karena air mata ibunya. Obrolan yang terakhir tentang pernikahan.
Sampai di rumah, untuk kesekian kalinya aku menggunakan kata ternyata. Buku yang aku beli dari dua tempat yang berbeda, ternyata penulisnya sama.
Maha suci Allah, dengan garisan kehidupan-Nya
Hari ini aku begitu banyak bertemu dan mendengar tentang perempuan, wanita dan sejenisnya.
Maha suci Allah, dengan segala misteri-Nya.
Hari ini aku membeli dua buku dengan penulis yang sama dari tempat pembelian yang berbeda.
(Mesjid al Banna, Gg Putri, Cileungsi, Mafaja; Minggu, Juni 15 2008)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar