Cuaca yang tidak menentu, telah sampai pada perubahan fisik dan biologis begitu pun pada pemikiran para penghuni bumi (manusia).
Kondisi pangan di Indonesia telah menuju gerbang pada krisis karena dampak cuaca, yang petani pun kini tidak bisa menerka. Apa lagi pada tahun 2010 sepanjang tahun lebih banyak hujannya kini tahun 2011 cuaca seperti itu pun tak menunjukkan pada perubahan.
Kesulitan pangan telah dirasakan pada pemakan nasi aking, tiwul, dan pada apapun yang bisa dimakan.
Perubahan pada fisik penghuni bumi (manusia) bisa dilihat pada meningkatnya kejahatan dan kasus bunuh diri.
Alam terus bergeliat mencari keseimbangan, dan penghuni bumi mengatakan itu sebagai musibah. Karena adanya musibah itu kini banyak di temui kata Penanggulangan Bencana Alam, tetapi sebagian penghuni bumi yang lain tengah asyik merusaknya tanpa pikir panjang karena dengan uang yang melebihi dari cukup itu bisa mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan dan hukum yang membuat sejahtera.
Pemerintah hanya menyibukkan diri pada pencitraan, pembangunan dan kasus yang tak pernah kunjung ada selesainya, negeri sinetroni sungguh alangkah lucunya.
Apakah pada krisis ini wujud dari pemusnahan manusia yang dianggap lama yang akan digantikan oleh manusia baru. Entahlah, hanya do’a yang membuat bertahan.
Pasirtanjung, 17 Januari 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar