Tampilkan postingan dengan label artikel Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel Diri. Tampilkan semua postingan
Rabu, 03 April 2013
sabar temannya pasrah
Ketika kesabaran dan sifat kepasrahan harus menjadi senjata untuk hidup.
Bukan ego, yang mengatas namakan diri dari segi apa pun, membumi dengan segala kerendahan alam yang diam merenung dan menerima semua perlakuan tetapi ia tidak diam. Tidak diam mereka bukan berontak, tetapi memendam do’a untuk memohon kesadaran yang waras dari siapa saja yang mengganggu keseimbangan bumi dengan serakah.
Bukan penampakan diri yang utama, diamlah melata seperti cacing.
Cacing ada pula yang menjadi Wali/Sunan. Tenanglah.
Tenggelamkan diri pada siapa pun, tiada yang patut kita banggakan pada diri kita sendiri. Karena Khalifah adalah pelayan/pembantu yang bertugas menjaga keseimbangan alam yang dititipkan.
Rasa kecewa, sakit dan merasa tidak di hargai adalah salah satu rasa yang menunjukkan bahwa diri adalah lebih dari pada siapa pun, karena merasa mampu atau lebih unggul dari yang lain.
Hidup itu paradoks
_12Januari2013.Sabtu_
Jumat, 15 Februari 2013
Apakah Benar
Apakah benar kita membenci
setan?
Apakah benar kita membenci
dosa?
Sedangkan benci adalah
sikap sangat tidak suka
Dan barang siapa yang
membenci sesuatu
Ia tak ingin memandangnya
Ia tak ingin mendengarnya
Maka,
Seberapa bencikah kita
kepada setan?
Seberapa bencikah kita
kepada dosa?
Saat dengan memandangnya
bisa membawa kita pada dosa
Saat mendengarnya kita
terlena pada dosa
[15Februar2013]
Pemenggalan Hobi
Hobi minat ku telah terkikis terpenggal
Bahkan sebelu aku menikah
Hikmahnya;
Aku harus benar-benar memilih dan memilah
Kegiatan apa yang akan membuat keluarga ku tersenyum
Sungguh aku menahan amarah atas pemenggalan ini
Haruskah aku marah
Haruskah aku memikirkan lagi dengan beribu-ribu kali
Sampai minum obat sakit kepala
Masih belum ku selami dunia baru ku ini
Semua terasa hambar
Ketika tidak berada di tengah keluargaku sendiri
Yang ada bagaimana mencukupi keluarga ku
Berekreasi dengan bekerja
Menunggu hobi yang baru
Yang bisa mencukupi keluargaku
Dan bisa menikmati kegiatanku yang bisa membuat keluargaku tersenyum
Seperti aku sedang berekreasi.
Amin.
[15Februari2013]
Pengikisan diri
Nama diri kan hilang lagi, tetapi tidak seperti dahulu itu yang
menghilangkan nama diri untuk nama kelompok, yang ada adalah nama kelompok
tiada nama dan diri. Melupakan segala kepentingan pribadi.
Disini penempatan penghilangan nama dirinya lain lagi, nama dan diri akan
hilang tetapi dengan seiring waktu nama dan diri akan hidup kembali terbawa
oleh anak, darah daging dari kita.
Semoga pembawaan nama dan diri yang akan di bawa oleh anak ku akan menjadi
lebih baik dari pada nama dan diri ku sendiri.
Amin.
[Februari 2013]
Senin, 11 Februari 2013
Ketika kesabaran dan sifat kepasrahan harus menjadi senjata untuk hidup.
Bukan ego, yang mengatas namakan diri dari segi apa pun, membumi dengan
segala kerendahan alam yang diam merenung dan menerima semua perlakuan tetapi
ia tidak diam. Tidak diam mereka bukan berontak, tetapi memendam do’a untuk
memohon kesadaran yang waras dari siapa saja yang mengganggu keseimbangan bumi
dengan serakah.
Bukan penampakan diri yang utama, diamlah melata seperti cacing.
Cacing ada pula yang menjadi Wali/Sunan. Tenanglah.
Tenggelamkan diri pada siapa pun, tiada yang patut kita banggakan pada diri
kita sendiri. Karena Khalifah adalah pelayan/pembantu yang bertugas menjaga
keseimbangan alam yang dititipkan.
Rasa kecewa, sakit dan merasa tidak di hargai adalah salah satu rasa yang
menunjukkan bahwa diri adalah lebih dari pada siapa pun, karena merasa mampu
atau lebih unggul dari yang lain.
Hidup itu paradoks
_12Januari2013Sabtu_
Kamis, 20 Desember 2012
Kepada Calon Anakku
20 Desember 2012
Kepada
Calon Anakku
Nak, pada tanggal 03 Desember 2012 ibu mu coba pake
tespek untuk mengetahui apakah tidak enak badannya gara-gara positif hamil atau
hanya masuk angin biasa. Ternyata hasil tespek nya menunjukkan ibu kamu hamil.
Jujur nak, ayah kaget dan ibu mu marah gara-gara respons
kaget ayah. Benar apa kata rekan kerja ayah bila kehamilan pertama itu bagi si
ayah terasa siap tidak siap.
Dari hari itu, ibu kamu mulai terserang syndrom nyiram,
ibu mu mulai terasa mual-mual terus badannya lemas dan tidak mau makan. Sampai
hari ini makannya hanya beberapa sendok. Badan ibu mu pun turun drastis untuk
hitungan turun berapa kilo nya hanya ibu mu yang tahu.
Muka ibu mu selalu terlihat pucat nak.
Tanggal 15 Desember 2012, ibu mu memutuskan untuk
mengundurkan diri di tempat kerjanya, dengan badan yang lemah pastinya kemudian
tanggal 16 Desember 2012, ayah dan ibu mu pulang dari Cimareme ke Pasirtanjung
dahulu sebelum ke Jemblung.
Di Pasirtanjung, ibu kamu tetap lemas nak. Makan nya tetap
sedikit dan pastinya plus muntah-muntah yang ga ada isinya.
Ibu kamu terlihat sedikit segar setelah main di uwa kamu
di Babakan Raden, nah wajah ibu kamu sudah berbeda sedikit segar, padahal
rencananya mau ke dokter melihat ibu kamu sudah segar akhirnya ke dokternya di
undur.
Ketika ayah pergi ke sekolah ibu kamu mulai terasa lagi
syndrom nyiram nya, ibu kamu puyeng akhirnya pergi ke dokter kandungan sama uwa
kamu, dan ayah tidak ikut. Maaf ya nak, ayah di sekolah itu di luar rencana.
Nanti ayah cerita lagi ya nak, bersambung....
Miss u my son
Your Father
Minggu, 19 Februari 2012
KETIKA KASJID MENJADI LADANG BISNIS
Ketika umat muslim yang menjadi minoritas entah itu di bagian terpencil negara Indonesia atau pun di luar negara Indonesia, mereka berjuang sekuat tenaga, bahkan tidak sedikit yang bertaruh nyawa atas perjuangan mendirikan mesjid untuk beribadah jamaah.
Namun di sisi belantara dunia yang lain, mesjid begitu banyak dan di bangun dengan arsitektur nan indah-indah. Dari sebagian masjid itu ada yang hanya sebagai pelengkap kekayaan saja, ada pula fungsinya seperti villa.
Di daerah minoritas muslim, mereka berjuang dengan tetes darah untuk mendirikan sebuah masjid walau pun itu kecil, di sisi belantara bumi yang lain di antara mayoritas muslim yang sudah ada berdiri masjid dengan indahnya, mereka juga berjuang untuk mencari keuntungan materi dari itu.
Masjid sebagai rumah untuk ladang amal dan ibadah kini telah di kotori oleh manusia yang merasa makhluk paling mulia, dijadikannya mesjid itu sebagai ladang berbisnis demi keuntungan materi.
Kamis, 16 Februari 2012
Rabu, 15 Februari 2012
apa Definisi Miskin Menurut Pemerintah dan Rakyatnya?
Statistik angka dari masyarakat miskin di negeri ini tidak akurat, kadang turun kadang naik tapi perputaran ekonomi terasa sangat cepat adalah ketika hari raya Idul Fitri. Negara ini jumlah angka kemiskinan akan berbanding sama dengan taraf pendidikan dan Sumber Daya Manusia yang lemah atau kurang.
Saya percaya rakyat Indonesia itu tidak miskin, sumber daya alam yang melimpah, kerukunan antar warga, gotong royong. Teringat pesan Presiden pertama Republik ini “saya tidak butuh orang pintar, tetapi saya butuh orang yang rajin”.
Suatu saat, saya pernah bertanya pada murid kelas 8, masih tentang motivasi untuk melanjutkan sekolahnya. Sebagian siswa mengatakan ingin melanjutkan dan sebagian lagi ingin melanjutkan tetapi tidak bisa melanjutkan, dengan alasan tidak ada biaya.
Namun, ketika saya tanya apakah siswa yang beralasan tidak mempunyai biaya itu punya motor atau sawah atau kebun, ada yang menjawab punya. Lantas kenapa bila biaya kredit motor yang minimal Rp. 500.000 per bulan bisa didapat tapi untuk mencicil biaya pendidikan tidak bisa.
Miris yang kedua kali, pengalaman ini saya dapat dari beberapa tahun yang lalu. Ketika saya KKN dan bertanya ke salah satu penduduk di tempat saya KKN, dia mengaku sebagai keluarga miskin, pekerjaannya hanya bertani. Tetapi bila aku perhatikan rumahnya sudah permanen.
Pada malam harinya di tempat aku dan teman KKN berkumpul sambil minum kopi, ada bapak RT setempat, kemudian aku tanyakanlah perihal pertemuan ku dengan si Bapak-bapak, penduduknya.
“Pak, si bapak yang rumahnya sebelah sana” Aku menunjuk pada salah satu arah
“Apa pekerjaan dia?”
Pak RT menjawab
“Oh, si Bapak itu. Pekerjaan dia bertani”
“Sawahnya punya sendiri pak?”
“Ya, sawah yang dia tanami itu punya sendiri, pribadi.”
Sedikit kaget mendengar jawaban dari bapak RT baruasan.
Selasa, 14 Februari 2012
Sekolah atau Berpenghasilan
Ketika aku bertanya pada kepada murid kelas 9 MTs, pertanyaannya seputar melanjutkan atau tidaknya sekolah ke jenjang SMA atau Aliyah. Akhirnya dia pun menjawab;
“tidak tahu Om bingung, sepertinya saya kerja. Saudara saya kerjanya ikut sama orang penghasilannya Rp. 5.000.000 per bulan, sekarang dia punya Sapi, pak.”
“dia, lulusan SD, SMP atau Mts?”. Aku bertanya lagi.
“dia lulusan Mts”.
Saudara dari murid kelas 9 itu tidak meneruskan sekolahnya, ia memilih untuk bekerja. Dan berpenghasilan.
Lain lagi cerita, dari teman-temanku ada dari murid yang tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA/Aliyah, mereka bekerja juga, dengan tenang mengatakan;
“Saya bekerja tidak menggunakan ijazah ko, Cuma pake KTP. Jadi sampai sekarang saya belum tahu berguna atau tidaknya ijazah itu”.
Sungguh miris, dan lebih miris lagi ijazahnya belum ia ambil di sekolahnya, karena ada tunggakan administrasi.
Langganan:
Postingan (Atom)