Halaman

Rabu, 07 Desember 2011

Ketika aku menyapa Bumi (Hujan)

Dengarlah suaraku yang menyentuh bumi, bukankah kau merindunya. Puaskah dahagamu, ketika kerontang di antara kamu banyak yang menengadah berdoa beserta puja puji, meminta, bahkan mengutuk langit. Dan apakah ketika aku turun menyapa, kamu akan meneruskan doa-doa dan puja puji mu?

Ketika aku menyapa bumi, ada yang merindunya ada pula yang mencemaskannya. Ketika aku datang terjadi longsor, ketika aku datang banjir pun tiba. Patutkah kamu menyalahkan aku atas itu?

Ketika aku menyapa bumi dari kerinduannya, menyampaikan salam kepada tanah-tanah gersang, menyampaikan kabar kepada tanah-tanah tandus. Aku sungguh sedih, ketika aku datang pada tanah yang sudah tak ada pohonnya lagi, kini aku tidak bisa bercengkerama lama dengan akar pohon. Dan ketika aku datang, di antara kamu pun menyalahkan kami, dan kamu sebut itu bencana alam.

Kami adalah kumpulan titik-titik air yang mendinginkan tetapi tidak membekukan, kami datang atas panggilan kerinduan kalian, kenapa kami yang di salahkan atas adanya longsor, banjir, dan bah. Kami datang dengan kadar air yang masih sama seperti dulu, dengan jumlah yang sama pula atas apa yang bumi butuhkan, lantas kenapa kamu bunuh sebagian dari yang membutuhkan kami, apakah kamu juga tidak membutuhkan kami?

Kini aku pun datang tiada kan lama, kami hanya datang untuk menyapa salam rindu pula dari kami kepada tanah yang setia, kepada roh-roh pohon yang telah di bunuh dengan paksa, kepada manusia yang selalu berdo’a, kepada yang selalu menjaga keseimbangan.

Endang Taufik
18 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar