Sangkuriang dan Bandung Bondowoso berharap banyak pada malam. Semoga malam senantiasa membawa mimpi-mimpi menuju bumi.
Namun, Putri Khayal menahan mimpi-mimpi itu turun menuju bumi.
Pagi menendang
Matahari mengutuk
Amarah dan lahar tak terbendung
Kutukan demi kutukan keluar bersama sumpah serapah
“Pagi macam apa ini
Matahari macam apa kamu,
adakah persengketaan tentang pernikahan di alam mu”
Biarkan mimpi menjadi mimpi
Dan biarkan bumi tetap dengan lingkaran adanya
“Wahai rakyatku suarakan irama alu,
nyalakan api kehidupan,
kita harus bangun lebih awal dari matahari”
Suara Putri Khayal menggema memecah sunyi mimpi
“Rindukanlah kasih yang sejati rakyatku,
istananya,
Di mana keabadian dan kesetiaan menjadi pilar.
Bangun rakyatku rindukanlah kasih yang sejati,
di mana dalam keterjagaanmu tiada yang saling mengkhianati,
rindukanlah kasih yang sejati rakyatku”
Matahari pagi datang dan tersenyum, menatap candi nan elok dengan 99 amarah, kemudian matahari menatap pegunungan dengan kawah nan indah yang terbalut kabut dendam perahu.
Siapakah yang berharap dengan amarah dan nafsu tadi malam?
Siapakah yang murka terhadap kedatanganku?
Teriak Matahari.
Alam mimpi alam bumi memang berbeda, dan itu nyata adanya
Putri Khayal adalah teman bagi yang terjaga, bukan menjadi istri yang bisa di poligami
(Kemping Jambore Depag, Mi Manbaul Islamiyah, Pasirtanjung. Cimandala-Bogor Des. 29. 2007)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar